Al-quran Dalam Perspektif Historis versi Timur dan Barat[1]
1. Eksistensi Alquran
Al-quran sebagai kitab samawi yang terakhir(akhir dari semua kitab) yang diwahyukan oleh Allah Swt kepada Nabi yang terakhir dan pada agama yang terakhir pula yang di wahyukan oleh Allah kepada Nabi sebagai agama yang rahmatan lil’alamin. Alquran sabagai dastur(konstitusi/undang-undang[2]) umat islam yang pertama, sebagai undang-undang yang mengatur untuk kedamaian dan kesemalatan seluruh umat manusia dan peraturan langit yang memberi hidayah kepada ahli bumi, yang mana al-quran turun untuk menjadikan hidup manusia di muka bumi ini menjadi bahagia dunia dan akhirat jikalau mengamalkan, mengerjakan apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang undang-undang langit ini. Al-quran juga sebagai mu’jizat terbesar yang dimiliki oleh Nabi Muhammad Saw, bahkan mu’jizat terbesar dari semua mu’jizat yang telah Allah wahyukan kepada Nabi-nabi sebelum Beliau, al-quran juga sebagai saksi di dimuka bumi yang tidak kenal lelah selama 14 abad lamanya memberi kabar bahwa Muhammad Saw adalah Nabi Dan Rasulullah yang amanah, alquran sebagai tempat berlindung yang pertama(sumber utama) yang mana umat islam bersandar padanya didalam aqidah, ibadah, hukum, hikmah-hikmah yang terkandung didalamnya, akhlaq, adab, kisah-kisah, nasehat-nasehat, ilmu dan pengetahuan yang semuanya terkandung didalam kitab suci alquran.
Jikalau kita menengok kebelakang tentang sejarah turunnya alquran dari pertama kali turunnya di gua Hira dan masa turunnya di Makkah dan Madinah secara berangsur-angsur selalama 23 tahun, namun kemurniannya masih tetap terjaga sampai sekarang dengan kurun waktu 14 abad lamanya, sungguh menakjubkan mata. Masih eksisnya al-quran sebagai sumber pijakan dan dasar umat islam, tentunya membuat banyak orang bertanya-tanya terutama orientalis (mustasyriq) dan musuh islam tentang keautentikan, kemurnian alquran di serang oleh mereka , mereka membuat sejarah tentang alquran baik itu ditinjau dari segi historis timur dan barat dengan akal bohong mereka. Spekulasi, desas desus dan paradigma pun muncul dimasyrakat muslim khususnya, tatkala kaum orientalis mempertanyakan dan menuduh ketidak autentikan alquran, mereka mengatakan bahwa al-quran produk budaya arab( muntaj tsaqofiy al-araby), buku sejarah terbesar yang yang dimiliki orang arab jahiliyah dan umat islam, mereka tidak lagi memandang bahwa al-quran adalah wahyu Ilahi yang suci, yang diwahyukan oleh Allah Swt sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia melainkan hanya tertentu bagi bangsa arab saja atau lebih spesipiknya mereka mengatakan“hasil olah budaya bangsa arab jaman jahiliyah”.Pemikiran mereka ini sebenarnya sudah tidak asing lagi, karena tujuan mereka adalah melulantakkan agama islam dan membuat keyakinan umat islam terhadap alquran lemah. Tetapi disisi lain sungguh naïf jika pendapat mereka ini akhirnya dikonsumsi oleh sebagian umat islam, mereka yang beraliran kiri. Karena pemikiran mereka ini tentunnya bertentangan dengan keyakinan umat islam, kerena islam meyakini bahwa al-quran adalah wahyu Ilahi sebagai petunjuk, syafa’at dan obat penawar bagi mereka yang kena penyakit bagi semua manusia yang berada di muka bumi ini, seperti dijelaskan dalam al-quran” Dan Kami Turunkan Dari al-quran sabagai penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan al-quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang dholim kecuali kerugian” QS:Bany Israil:82[3]. Al-quran memang sangat menakjubkan dibandingkan dengan kitab yang lainnya kerana walaupun sudah berlalu 14 abad yang lalu nnamun keautentikan masih tetap terja berbeda dengan pendapat kaum orientalis yang mengatkan bahwa kemurnian al-qurang sudah disangsikan, ini tentunya tidak terlepas dari janji Allah Swt sebagaimana Firmannya” Sesungguhnya Kamilah yang menrunkan al-dikr( al-quran) dan sesungguhnya Kami pulalah yang menjaganya“. Al-quran sebagai pedoaman Nabi muhammada Saw, sedangkan beliau diutus untuk semua manusia bahkan semua makhluk hidup yang melata didunia ini, oleh sebab itu salah jika ada yang berpendapat bahwa al-quran hanya tertentu bagi bangsa arab saja. Polimik keabsahan alquran memang sangat senter dibicarakan pada era ini, alquran dianggap sudah tidak layak digunakan pada saat ini, bahkan orientalis berpendapat bahwa alaquran adalah hasil gabungan antara injil dan taurat dan masih banyak lagi tuduhun-tuduhan terhadap alquran.
Sejarah historis alquran dari awal turunnya dan pembukuan (pengumpulannya) memang lumayan memakan waktu yang sangat lama, sehingga senjangnya waktu yang lumayan lama ini dijadikan alat oleh orang-orang orientalis untuk melemahkan keimanan umat islam terhadap alquran, namun bagi umat islam sendiri jarak antara turunnya wahyu dan penulisannya yang dipisah oleh ruang dan waktu bukanlah suatu kelemahan untuk membuat umat islam lemah dan tidak mengimani alquran karena alquran telah membuktikan eksistensinya sebagai kitab samawi satu-satunya yang tetap bertahan dan selalu dijaga sehingga apapun yang dilakukan oleh musuh-musuh islam dianggap angin lalu dan tidak ada pengaruhya bagi unat islam yang sudah kuat imannya.
Tuduhan (syubhat) terhadap keautentikan alquran
<> Orang–orang orientalis tidak akan pernah tenang jika masih meliha umat islam tetap berpegang teguh pada alquran dan mejadikannya rujukan, maka mereka pun berusaha agar umat sislam berpaling darinya. Salah seorang dari mereka yang bernama Roudolf mengatakan” Alquran bukanlah kalam Ilahi seperti apa yang diyakini umat islam sekarang ini, melainkan kalam Muhammad, dia menulisnya dari tempat dia hidup di Madinah, dimana dia hidup berdampingan dengan kaum Yahudi dan Nashrani, dari kitab merekalah Muhammad menulisnya dan kemudian dikenal dengan alquran[4]“.
Bantahan terhadap pendapat orientalis ini sebagai mberikut:
a. Pendapat ini tentunya tidak masuk akal sama sekali (ghoiru ma,qul), karena alquran telah menantang siapa saja yang mampu untuk membuat semisal alquran dari zaman dulu sampai sekarang pun tidak ada yang mampu membuatnya, didalam alquran sendiri sampai tiga kali tantangan terhadap siapa saja yang mempu membuat semisal alquran walau sepuluh ayat bahkan satu surat pun, akan tetapi tidak ada yang mampu membuatnya, ini menunjukkan bahwa alquran memang Kalamullah. Jikalau Nabi Muahmmad dikaitkan dengan ahli kitab yang hidup di Madinah, maka para ahli sejarah menyangsikan bahwa pada zaman itu Yahudi dan Nashrani tidak mempunyai pijakan kitab yang jelas, jikalau memang Nabi Muhammad menyalin dari kitab mereka kenapa tidak ada dari golongan mereka membuat semisal alquran seprti apa yang mereka dengungkan atau tuduhkan kepada Nabi bahwa Muhammad SAW mengambil dan menyalin dari kitab mereka?
b. Jikalau memang benar Bahwa alquran adalah kalam Muhammad Saw seperti yang di tuduhkan oleh Rodulf (salah satu orientalis dari Jerman) Kenapa ahli kitab tidak mampu membuat seperti apa yang di buat oleh Muhammad Saw? Padahal taurat dan injil adalah kitab suci mereka yang kesehariannya mereka percayai, padahal mereka juga pandai ilmu fashohah, balaghah dan mereka adalah orang yag peling pandai dalam segi penguasaan bahasa arab di bandingkan yang lainnya.
c. Jika memang benar bahwa Muhammad SAW mnegmabil dan menyalin dari kitab mereka, kenapa para rahib dan pendeta mereka tidak bias menulis seperti hal-nya tulisan Muhammad SAW? Padahal mereka jauh lebih pandai dari pada Muhammad SAW terhadap penguasaan kita taurat dan injil, karena sudah menjadi makan mereka tiap waktu untuk mepelajari dan mengajarinya terhadap murid-murid mereka. Jelas bahwa klaim mereka terhadap alquran, bahwa alquran adalah hasil adobsi dari kitab mereka adalah salah besar dan tidak mendasar.
<> Tuduhan selanjutnya, Roudulf dan Rodinson menuduh bahwa ” Alquran adalah buah hasil dari pertemuan Muhammad dengan rahib Bahira, kemudian Muhammad mengatakan bahwa apa yang didapat dari rahib Bahira adalah kalam yang suci yang datang dari Allah, supaya manusia percaya terhadap pengakuan Muhammad”
Jawaban terhadap tuduhan orientalis ini sebagai berikut:
a. Sejarah (barat dan timur) mencatat bahwa Nabi Muahammad SAW bepergian ke kota Syam hanya dua kali saja, pertama, ketika beliau masih anak-anak diajak bepergian oleh pamannya Abu Thalib, kedua, dimasa mudanya bersama Maysaroh pembantu Siti Khadijah Ra. Sejarah mencatat bahwa pertemuan Nabi dengan rahib Bahira hanya sekali saja, yaitu ketika beliau ke Syam bersama pamannya, Nabi ketika itu tidak ada waktu khusus untuk belajar atau talaqi (face to f ace) dengan rahib Bahira, akan tetapi rahib Bahira melihat bahwa awan selalu mengikuti Nabi dan seakan menjadi payung ditiap perjalanannya, kemudian si rahib Bahira mengatakn kepada Abu Thalib ” anak ini akan menjadi orang besar” kemudian Bahira meminta kepada Abu Thalib untuk segara meninggalkan kota Syam dan kembali ke kota Makkah karena kalau sampai ketahuan oleh orang Yahudi, mereka akan membunuhnya, sedangkan perjalan yang kedua kalinya ke Syam, sejarah juga mencatat bahwa Nabi tidak bertemu sama sekali dengan rahib Bahira dan tujuan Nbai adalah untuk berdagang. Sangat tidak masuk akal ketika ketika perjumpaan Nabi dengan Bahira masih kecil dan petemuannya juga bukanlah untuk belajar, kemudian bisa membuat kitab semisal alquran, dan kepergian Nabi yang kedua kalinya ke Syam bukanlah untuk belajar melainkan untuk berdagang dan Nabi pun tidak bertemu denan Bahira[5].
b. Sungguh mustahil seorang anak kecil yang hanya bertemu satu kali saja, bisa membuat kitab seperti alquran, jika Nabi bias membuat alquran yang hanya bertemu satu kali saja dan umurnya pun masih anak-anak, tentunya rahib Bahira bias juga membuat kitab seperti alquran bahkan lebih dahsyat lagi dari alquran, jika memang benar Bahira adalah masdar (sumber) dari penulisan alquran oleh Nabi maka secara otomatis Bahira adalah orang yang paling pintar di alam jagat raya ini karena dia bisa membuat kitab yang mukjizat, yang sampai sekarang masih tetap eksis sebagai pedoman, jika nabi Muhammad SAW menjadi utusan dengan bisa membuat alquran sedemikian rupa, sebarnya Bahira jauh lebih berhak menjadi nabi dan rasul dari pada Nabi Muhammad SAW. Jelaslah bahwa tuduhan mereka ini tidak mendasar dan tidak bias diterima oleh akal sehat manusia[6].
2. Pengumpulan Alquran
Alquran dalam pengumpulannya terjadi selama tiga fase, fase pertama dimasa Nabi Muahammad Saw, dimasa khalifah Abu Bakar adalah fase yang kedua dilanjutakan fase yang ketiga dimasa Khalifah Usman Bin Affan.
A. Pengumpulan (aljam’u) Alquran di masa Nabi Muhammad Saw
Al-jam’u menurut pandangan ahli bahasa arab mempunyai dua arti yang berbeda, yang keduanya ini makna ini terjadi ketika masa pengumpulan alquran di masa nabi.
a. Al-jam’u mempunyai arti” menghafal” dengan artian ketika alquran turun kepada Baginda Nabi, alquran dikumpulkan(dihafal) didalam hati Nabi Muhammad SAW, namun penghafaln nabi terhadap alquran tidak sekaligus langsung hafal dan dengan cepat lancer membaca ayat alquran, tetapi dengan perlahan tapi pasti dengan kehendak Allah SWT beliau hafal dan melekat didalam hatinya. Di suatu ketika Nabi ingin segera dan cepat hafal alquran, sehingga turunlah Firman Allah Swt” Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Alquran karena hendak cepat-cepat menguasainya” diayat selanjutnya pun Allah Swt menegasakan lagi bahwa Allah yang akan mengumpulkan alquran didalan dadanya (hatinya). Firman Allah Swt” Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah mengumpulkan (didalam dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya, apabila Kami telah selesai membacanya, maka ikutilah bacaannya itu“Qs:alqiyamah, ayat:16-18. Denag kesabaran dan keuletannya, akhirnya beliaulah orang yang pertama kali hafal alquran, diaman alquran diturunkan selama 23 tahun. Didalam kitab shoheh Bukhori, ada tiga riwayat yang menjelasakn bahw dari kalangan sahabat ada tujuh orang yang mengikuti jejak nabi pada waktu, yaitu hafal alquran, namun bukan berarti para sahabat selainmereka tidak hafal alquran namun ini hanya sebagai gambaran saja, ketujuh sahabta itu adalah, Abdullah Bin Mas’ud, Salim bin mu’qol, mu’adz Bina Jabal, Ubay Bin ka’ab, Zaid Bin tsabit, Abu Zaid Bian sakan dan Abu darda. Dari sini sudah jelas bahwa pengumpulan alquran dimasa Nabi dengan cara mengahafal adalah salah satu bagian terpenting, karena pada masa itu alquran walaupun sudah di tulis akan tetapi belum berbentuk mushaf. Sesungguhnya kepercayaan didalam memindah dan menukil didalam alquran dari hafalan lebih di percaya dan sebuah keutamaan bagi umat islam, kerena telah menghafal kitab yang suci yang tak lain adalah mukjizat terbesar umat manusia”
b. Aljam’u mempunyai arti menulis, ulama lughah memberi arti aljam’u “tulisan[7]” dengan demikian sebenarnya alquran dimasa Nabi sudah mulai dikumpulkan dan ditulis, Kemudian nabi memiliha dari para sahabat untuk menulis alquran yang kemudian dipercaya kepada Ali Bian Abi Thalib, Mua’wiyah, Ubay Bin Ka’ab dan Zaid bin Tsabit. Ketika ayat turun Rasulullah langsung memerintahakna para sahabat yang terpilih tadi untuk menulis semua ayat dan dikkumpulkan lengkap dengan peletakan suratnya sehingga tulisan tadi tertata rapi walaupun pada masa itu penulisan alquran masih sebatas ditulis di pelepah kurma, tulang, kulit hewan dll. Sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh Zaid Bin Tsabit beliau berkata” Kami bersama Rasulullah SAW mengumpulkan alquran”. Namun sebelum alquran dikumpulkan dan dirulis terlebih dahulu dibacakan dan disimak oleh nabi supaya tidak ada simpang siur antara sesame sahabat dikala itu, setelah alquran yang mereka hafal sama tidak ada perbedaannya maka mereka mulai mengumpulkan dan menulis alquran seperti perintah nabi ketika memerintah Zaid Bin Tsabit” Jangan kau tulis dari aku selain Alquran”.
B. Pegumpulan Alquran Di Masa Khalifah Abu Bakar asshiddiq
Setelah Rasulullah wafat, maka para sahabat memilih Abu Bakar sabagai khalifah dan mendapuknya sebagai pemegang tampuk kepemimpinan islam. Sebagaiman kita ketahui bersama bahwa di masa nabi, walaupun alquran sudah tertulis namun belum berbentuk mushaf. Sebab-sebab yang membuat Abu Bakar menyalin (dari tulisan sahabta dimasa nabi) atau menulis alquran adalah para huffadz (orang-orang yang hafal alquran) banyak yang meninggal diperang Yamamah, ketika menumpas pembangkang dan penolak pembayaran zakat yang waktu itu dipimpin oleh Mazaylamah Alkaddzab. Dengan banyaknya orang yang hafal alquran (huffadz) meninggal maka Umar Bin Khottob mendorong Abu Bakar untuk membukukan alquran dikhawatirkan akan semakin sedikitnya orang yang hafal alquran karena gugr dalam medan perang menuju Sabilillah. Pertama klai diajak oleh Umar Abu Bakar tidak langsung mau dengan ajakannya namun setelah melalui musyawarah yang lumayan alot akhirnya hati Abu Bakar di bukakan oleh Allah SWT, Abu Bakar setuju dengan usulan Umar,sebenarnya Abu Bakar takut jikalau apa yang dilakukannya adalah sebuah bid’ah, menulis atau membukukan alquran sebenarnya bukanlah termasuk bid’ah[8] karena pada masa nabi pun alquran sudah dikumpulkan dan ditulis. Setelah setuju dengan usulan Umar[9]. Akhirnya Abu Bakar mengirim surut kepada Zaid Bian Tsabit untuk menulis alquran, karena Zaid lah yang paling pandai menulis dikalangan para sahabat dan sudah tidak asing lagi bahwa ketika wahyu turun Rasulullah pun menyuruh Zaid untuk menurun semua wahyu yang turun, namun Zaid pun tidak langsung menerima permintaan Abu Bakar dia berkata” Jikalau aku disuruh menulis alquran, sesungguhnya lebih mudah memindah gunung dari satu tempat ke tempa lainnya di bandingkan menulis alquran, Apakah kita berani melakukan sesuatu yang mana nabi tidak melakukannya“[10]? Setelah bermusyawarah panjang, akhirnya Zaid pun setuju dengan permintaan Khalifah Abu Bakar untuk menulis alquran berbentuk mushaf.
C. Penulisan Alquran Dimasa Khalifah Ustman Bin Affan
Masa khalifah Utstaman Bian Affan Adalah masa penaklukan atau pendudukan umat islam semakin melebarkan sayapnya keseluruh penjuru jazirah Arab bahkan Eropa. Dengan semakin meluasnya kekuasaan islam dan semangkin banyaknya pemeluk agama islam selain dari bangsa, tentunya umat islam terbagi menjadi dua bagian antara ‘arabiyin dan ‘ajamiyin otomatis dari umat islam yang bukan dari bangsa arab pun ingin belajar kitab alquran. Perbedaan makhorijul huruf, lahjah dan pelafadzan pun tentunya berbeda diantara mereka, bahkan banyak juga dimasa khalifah Ustman orang orang munafiq yang berpura-pura masuk islam untuk menghancurkan islam dari dalam dengan cara mengadu domba, fitnah dll. Dimasa Kahlifah Ustman banyak madrasah alquran yang sudah banyak berdiri dan mulai eksis, misalnya, di Syam berdiri madsrasah yang di pimpin oleh Ubay Bin Ka’ab, Abdullah Bin Mas’ud Memipin di Kufah dan yang lainnya mengikuiti bacaan Abi Asy’sry.
Perbedaan tempat dan iklim akhirnya didalam bacaan alquran mereka, terjadi perbedaan, dari murid mereka masing saling mengikuti bacaan yang mereka dapat dari para guru mereka, acap kali dari murid murid ini muncul sifat ta’asshub (fanatisme[11]) sampai apada tingkat tertinggi ketika diantara mereka saling mempertahankan pendapat mereka yang terkadang saling mengkafirkan satu sama lainnya, ini terjadi sebelum mereka tahu bahwa alquran diturunkan dengan cara tujuh jalan atau langkah (sab’atu ahrufin) menurut sebagian ulama, inilah sumber masalah di dalam sejarah alquran[12]. Beraneka ragamnya dan saling menghujat sesama umat islam inilah yang membuat Ustman Bin Affan khawatir akan semakin berkepanjangan. Maka Beliaumengmbil inisiatif untuk mebubukan kitab alquran yang kemudian di kenal dengan “Mushhaf Ustmany atau mushaf imami[13]“. Kha;ifah Ustman pun mengambil mushaf yang ada dirumah Hafshah Ra yang dikumpulkan dimasa khalifah Abu Bakar untuk disalin dan ditulis lagi, Beliau pun memilih empat anggota dari kalangan sahabat untuk menulis mushaf tersebut, mereka adalah Zaid Bin Tsabit, Abdullah Bin Zabair, Abdullah Bin ‘ash dan Abdurrahman Bin Haris Bin Hisyam. Beliau pun memerintahkan para bawahannya untuk membakar semua alquran yang berbeda denngan mushaf ustmani yang sudah menyebar dimasyarakat agar tidak terjadi salah faham sesama umat islam dengan berpegangan pada mushaf ustmani saja sebagai mushaf jam’i atau setidaknya menjadi rujukan bagi alquran versi yang lainnya. Mushaf ustmani pun akhirnya menjadi mushaf resmi di masa khalifah Ustman Bian Affan dan selain mushaf ini, diperintahkan untuk dibakar, misalnya mushafnya Abdullah Ibnu Mas’ud dll agar tidak terjadi kebimbangan di tengah masyarakat muslim[14].
Tuduhan Terhadap Penulisan Alquran
<> Selalu dan terus menerus alquran menjadi sasaran orang-orang orientalis, mereka berasumsi dan menuduh bahwa dengan adanya jarak ruang dan waktu yang lama antara turunnnya wahyu, pengumpulannya dimasa nabi dan penulisannya dimasa para Khalifah tentunya mengalami kemerosotan atau tertambahnya ayat, disisi lain berkurangnya surat atau ayat, mereka memandang perbedaan mushaf yang ada di antara para sahabat, misalnya Abdullah Bin Mas’ud, mushaf beliau berbeda dengan Mushaf Ustmani sehingga Ustman Bin Affan memerintahakan untuk membakarnya.
Didalam mushaf Ibnu Mas’ud tidak tertulis surat alfatihah dan mu’awwidzatain (al-falq dan annas[15]), ini menunjukkan bahwa diantara para sahabat ada perbedaan dalam menulis alquran sehingga menurut pandangan orientalis, ada surat atau ayat yang ditambahkan dan dikurangi dalam penulisannya.
Bantahan terhadap tuduhan orientalis:
Para ulama menjawab tuduhan orientalis yang tidak benar ini dan jauh dari keimanan umat islam, Imam Nawawi didalam kitabnya Syarhul Muhaddzab, beliau berkata” Umat islam sepakat bahwa al-fatihah, dan mu’awwidzatain adalah sebagian dari alquran dan barang siapa yang mengingkari dan menolak bahwa surat tadi bukan dari alquran maka mereka adalah orang kafir,dan apa yang di nukil dari Ibnu Mas’ud adalah batildan tidak benar. Diperjelas juga oleh Imam Ibnu Hazm didalam kitab” alqodhi al-mu’la” beliau berkata” Ini adalah pendustaan dan penodaan terhadap nama baik seorang sahabat Nabi yang keadilannya telah tetapkan berdasarkan alquran dan hadist, tetapi yang benar adalah bahwa didalam qira,ah ‘Ashim yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud didalam qira,ahnya ada dan tertulis kalau surat alfatihah dan mu’awwidzatain adalah sebagian dari alquran“. Sebagian ulama berpendapat bahwa Ibnu Mas’ud belum mendengar mu’awwidzatain dari Nabi dan tidak mutawatir akan tetapi Ibnu Mas’ud tidak mengingkari adanya dua surat tersebut. Sedangkan menurut Ibnu Qutaibah” Ibnu Mas’ud tidak menulis alfatihah didalam mushafnya bukan menunjukkan bahwa Ibnu Mas’ud berprasngka atau tidak yakin bahwa alftihah bukan sebagian dari alquran, melainkan beliau tidak menulisnya karena alfatihah sudah jelas sekali bahwasannya dari sebagian surat alquran, karena semua umat islam tiap harinya membacanya minimal 17 kali dalam sehari semalam, jadi tidak ada keraguan lagi walaupun tidak ditulis didalam mushafnya“. Wallahu A’lam Bisshowab.
[1] Makalah ini dipresentasikan di Auditorium DPD Tanta
[2] Manahilul erfan: hal:10
[3] Alquran terjemah bahasa indonesia
[4] Moqorror tinga tiga usul( Istisyraq wa tabsyir)
[5] Attibyan ‘Ali asshobuny. Hal:148
[6] Ibid
[7] Manna’ul Qotthon. Hal:114
[8] Muqorror tingkat 2 usul, ulumul quran. Hal:15
[9] Manahilul erfan. Hal:249
[10] Ibid. Hal:151
[11] Kamus Al-ashry
[12] Tarikh alquran. Karangan Dr. Abdusshobur Suahin. Hal: 43
[13] Tarikh alquran. Karangan Muhammad Thohir Al-qurdy
[14] Manahilul Erfan. Hal:257
[15] Ibid. Hal:368