Nabi Ibrahim Tidak Pernah mencari Tuhan
Nabi Ibrahim As adalah bapaknya para nabi karena dari keturunan (Dzurriyat) beliaulah lahir banyak nabi sehingga beliau dijuluki abul ‘ambiya, selain dijuluki sebagai bapaknya para nabi beliau juga sebagian bapak tauhid, karena awal dari nabi dan rasul Allah yang di perintahkan untuk menegakkan tauhidillah di muka bumi ini. Kaum nabi Ibrahim sendiri banyak sekali mempunyai kepercayaan dan penyembahan alias mereka mempunyai keyakinan Tuhan yang banyak (politeisme), ada yang menyembah berhala, menyembah matahari, menyembah bintang, bulan dan Raja yang berkuasa di masa itu, Namrudz. Berbagai pristiwa spiritual dihadapi oleh nabi Ibrahim untuk menyebarkan dan mengajarkan tauhid kepada kaumnya misalnya beliau harus berhadapan dengan pamannya, Azar ( Azar bukan bapak beliau, walaupun didalam alquran memakai kata” Abun”, didalam bahasa arab sering digunakan kata abun, akan tetapi yang dimaksud adalah pamannya bukan makna hakikinya yaitu bapak, karena nama bapak Ibrahim As adalah Ibnu Tarih). Azar adalah termasuk orang terdekat nabi Ibrahim dan dia jugalah yang telah membuat patung kemudian di jualnya dan dijadikan Tuhan oleh kaum nabi Ibrahim As, tentunya kesehariannya Ibrahim As melihat pembuatan patung-2 yang telah di buat oleh pamannya bahkan suatu ketika, Ibrahim As menentang perbuatan pamannya ini, karena dalam keyakinan beliau patung yang di buat manusia dengan tangannya sendiri akan dijadikannya Tuhan ini tidak masuk akal sama sekali, selanjutnya Ibrahim As harus berhadapan dengan raja Namrudz, penguasa di masa itu, dia adalah raja yang kejam, kerjaanya membunuh rakyatnya yang tidak mematuhinya atau tidak mau mengakuinya sebagai Tuhan, sehingga suatu ketika terjadi perdebatan dengan nabi Ibrahim seperti yang telah dikisahkan didalam al-quran yang berbunyi: “Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat nabi IbrahimAs tentang Tuhan-nya (Allah) karena Allah telah memberika kepda orang itu (Raja Namrudz) kekuasaan (kerajaan). Ketika Ibrahim ,engatakan, ” Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan,” orang itu berkata,”Saya dapat menghidupkan dan mematikan”. Ibrahim berkata,”Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur maka terbitkanlah dari barat”,lulu heran dan terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzolim” QS:al-baqarah:258. Tantangan selanjutnya yang dihadapi oleh nabi Ibrahim adalah ketika dia menghancurkan patung-2 yang oleh kaumnya dianggap sebagai Tuhan, beliau harus berhadapan dengan api, beliau di bakar akan tetapi dengan izin Allah Swt beliau tetap tidak apa-apa dan selamat dari cobaan itu.
Banyak riwayat yang menjelaskan bahwa nabi Ibrahim As ketika masih anak-anak beliau mencari Tuhan, banyak juga didalam tafsir yang meyebutkan bahwa beliau pertamanya masih ragu dengan Tuhannya.Didalam al-quran surat al-an’am ayat 76, firman Allah, yang mengisahkan nabi Ibrahim As yang berbunyi:” Ini adalah Tuhanku” dalam menafsiri ayat ini banyak sekali ulama tafsir yang mengambil kisah atau hadist dari ahli kitab (israiliyat) bahkan adalah hadist palsu (maudhu’) kisah ini bisa menurunkan eksistensi beliau sebagai bapak tauhid, nabi dan rasul. Dari hadist dan kisah-kisah tadi sekan menunjukkan bahwa beliau mengalami masa pencarian Tuhan, ini tentu bertentangan dengan aqidah kita, karena beliau adala rasul yang ma’sum (dijaga) bagaimana mungkin akan mengalami masa transisi ketuhanan dalam keyakinannya. Seorang nabi bukan di pilih ketika dia berumur anak-2 atau setelah remaja melainkan dari bayi sudah mulai dicetak. Kita mempercayai bahwa setiap bayi yang lahir dalam keadaan muslim, berdasarkan hadist nabi Muhammad Saw:” setiap anak yang lahir dalam keadaan suci (islam) maka kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan dia Yahudi, atau Nashrani” Dalam pendapat yang muktamad, bahwa semua orang yang lahir dalam keadaan beragama islam, ini disebabkan karena didalam hadist tadi tidak menyebutkan lafadz ” yusallimaanih”i.
Ada beberapa hadist didalam kitab-kitab tafsir yang oleh para ulama hadist dan ulama tafsir di yakini hadist maudhu’ dan israiliyah; misalnya yang telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas didalam kitab tafsir At-Thabary. Didalam tafsir ini walaupun termasuk tafsir yang ma’tsur akan tetapi banyak sekali kisah Israiliyat (cerita-2 orang-2 Yahudi) dan hadist yang tidak di ta’liq (di komentari, atau di sanggah), jika tidak di komentari atu di sanggah maka nantinya akan membuat pembaca meyakini begitu saja , jika pembaca tidak membaca kitab tafsir yang lainnya, dengan ketelitiannya imam Ibnu Katsir dalam kitabnya banyak sekali kita temukan sanggahan terhadap kisah israiliyah ini. Mayoritas semua kisah yang palsu atau israiliyah di nisbatkan kepada Ibnu Abbas ini tidak terlepas karena terkadang beliau bertanya kepada orang Yahudi Nasrani yang telah masuk islam akan tetapi pertanyaann beliau bukan sesuatu yang berkaitan dengan aqidah. Kisah di atas di sanggah oleh Imam Arrozi dalam kitabnya Mafatihul Ghaib (tafsir kabir), dalam pandangan beliau cerita bahwa nabi Ibrahim mencari Tuhan ini tidak benar, beliau berpendapat bahwa nabi Ibrahim tidak sedang mencari Tuhan melainkan mengajak dialog atau debat kaumnya bahwa apa saja yang mereka jadikan Tuhan selain Allah adalah keyakinan yang sesat. Ini adalah sebagian cara nabi Ibrahim As untuk menghadapi kaumnya yang berbeda-berbeda keyakinan, dari yang menyembah berhala sampai yang menyembah matahari, ketika kaumnya sedang mengadakn ritual pemujaan, beliau mendatangi mereka yang sedang menyembah Tuhan mereka, mereka di ajak diskusi dialog dan adu argumen, sebenarnya Tuhan siapa yang paling benar. Maka tatkala matahari, bulan dan bintang terbenam beliau berkata” qola” hadza rabbi?” dalam ayat ini Imam Arrozi mengatakan bahwa nabi Ibrahim As berkata kepada kaumnya dengan methode kata tanya (istifahmul inkar) ” Ibrahim Berkata” Inikah Tuhanku dalam keyakinan kalian?” dengan maksud untuk menjelaskan dan membatalkan pendapat mereka bahwa sesuatu yang terbenam tidak pantas di jadikan Tuhan, jadi perkataan Nabi Ibrahim didalam ayat al-quran itu bukan sebagai penetapan atau keyakinan akan (la ‘ala sabilil jazmi) bahwa dengan mengatakan ” oh ini tuhanku” melainkan dengan lafadz istifaham inkar (pertanyaan menyangkal). Begitu juga dengan Imam al-Qurtubi, beliau memaparkan bahwa perktaan nabi ibrahim ketika berkata” ini adalah Tuhanku” untuk mengalahkan pendapat mereka, ketika matahari terbenam, maka pendapat mereka tentang Tuhan yang mereka sembah batal, salah dank ala dengan pendapat nabi Ibrahim As bahwa sesuatu yang terbenam tidak pantas untuk di jadikan Tuhan atau mempunyai arti, “masak seperit ini dijadikan tuhan?”.
Begitu juga Imam Al-Baidhowi didalam kitabnya, Syarhul muwafiq, beliau berpendapat bahwa kejadian ini dimasa nabi Ibrahim masih anak-anak dan perkataan tadi memang keluar dari lisan beliau akan tetapi bukan sebuah bentuk penetapan keyakinan penyembahan terhadap apa yang disembah oleh kaumnya, dengan demikian nabi ibrahin tidak berdusta didalam perkataanya ” Hadza Rabbi” akan tetapi perkatannya tadi menunjukkan bahwa ini dalam perdebatan beliau dengan kaumnya dan menentang pendapat kaumnya yang salah itu.
Ddiperkuat juga oleh pendapat Imam Ibnu Arabi dalam kitab krangannya, Ahkamul Quran, beliau berpendapat bahwa apa yang telah Allah berikan kepada nabi Ibrahim As dari ilmu, hujjah dan kuatnya aqidah beliau dan termasuk nabi dan rasul pertama yang diutus untuk membumikan tauhid Allah di muka bumi ini serta penjelasan yang telah Allah berikan kepadanya tentang ketauhidan Allah, dengan demikian Ibrahim As tidak mungkin tidak mengetahui Allah SWT atau bahkan ragu akan keesaan Allah Swt, kejadian tersebut adalah berita atau cerita yang terjadi antara Ibrahim As dengan kaumnya didalam perdebatan atau diskusi saja, bukan suatu bentuk keyakinan dan kometmen dari nabi Ibrahim As. Ibnu Arabi mengatakan: “Barang siapa yang berprasangka atau yakin bahwa Ibrahim As ragu, mengalami transisi dalam menentukan Tuhannya atau yakin bahw nabi Ibrahim pernah menyembah matahari, bulan, bintang maka itu adalah pemahaman yang keliru dan salah, disebabkan orang ini kurang dalam memahami dan bodoh terhadap sifat-2 Nabi dan Rasul” Bagaiman mungkin seorang rasul yang Allah telah berikan kepadanya akal, ilmu, anugerah dan kesempurnaan kepintarannya sebelum menjadi nabi, kok malah menyembah selain Allah denagn kata lain kok masih ragu dengan keEsaan Allah SWT, ini tentu tidak masuk akal, Firman Allah Swt dalam al-quran:” Dan sesungguhnya telah kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebellum ( Musa dan Harun), dan adalah kami mengetahui (keadaan) nya”. Begitu juga lanjutan dari yat yang di surah al-an’am ayat 78, Allah berfirman:” Ibrahim bekata, ” Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas dari apa yang kamu sekutukan”.
Dari ayat ini jelas sekali bahwa nabi Ibrahim tidak pernah mengalami transisi ketuhanan dengan artian mencari Tuhan, ayat ini juga mempertegas bahwa beliau tidak termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah Swt.
Allhu A’lam Bisshowab